Asuhan Keperawatan CEREBRO VASCULAR ACCIDENT (STROKE BLEEDING) - World Health education of health
World Health
 
A.  Pengertian

Defisit neurologi yang mempunyai sifat mendadak dan berlangsung dalam 24 jam sebagai akibat dari pecahnya pembuluh darah di otak yang di akibatkan oleh aneurisma atau malformasi arteriovenosa yang dapat menimbulkan iskemia atau infark pada jaringan fungsional otak (Purnawan Junadi, 1982).

B.  Etiologi

1.    Enurisma yang pecah (ruptura arteria serebri).

2.    Malformasi arteriovenosa.

C.  Faktor pendukung terjadinya stroke (bleeding)

a.       Hypertensi, faktor resiko utama

b.      Penyakit kardiovaskuler

c.       Kadar hematokrit tinggi

d.      DM (peningkatan anterogenesis)

e.       Pemakaian kontrasepsi oral

f.       Penurunan tekanan darah berlebihan dalam jangka panjang

g.      Obesitas, perokok, alkoholisme

h.      Kadar esterogen yang tinggi

i.        Usia > 35 tahun

j.        Penyalahgunaan obat

k.      Gangguan aliran darah otak sepintas

l.        Hyperkolesterolemia

m.    Infeksi

n.      Kelainan pembuluh darahh otak (karena genetik, infeksi dan ruda paksa)

o.      Lansia

p.      Penyakit paru menahun (asma bronkhial)

q.      Asam urat

(Brunner & Suddarth, 2000: 94-95, Harsono, 1996:60-65)


D.  Pathofisiologi

Otak sangat tergantung oksigen dan tidak mempunyai cadangan oksigen.  Bila terjadi anoksia seperti halnya pada CVA, metabolisme di otak segera mengalami perubahan.  Kematian sel dan kerusakan permanen dapat terjadi dalam 3 – 10 menit.  Setiap kondisi yang menyebabkan perubahan perfusi otak akan menimbulkan hipoksia atau anoksia.  Hipoksia sampai iskemia otak, iskemia dalam waktu singkat (kurang dari 10 – 15 menit) menyebabkan defisit sementara dan bukan defisit permanen.  Iskemia dalam waktu lama menyebabkan sel mati permanen dan berakibat terjadi infark otak yang disertai edem otak.  Tipe defisit fokal permanen akan tergantung kepada daerah otak yang mana terkena.  Daerah otak tergantung kepada pembuluh darah otak yang mana terkena.  Yang paling sering terkena arteri cerebral tengah, defisit fokal permanen dapat tidak diketahui jika pertama kali pasien dijumpai iskemia otak keseluruhan yang bisa teratasi.                          

(Sylvia Anderson Price, 1982)

E.   Gejala klinik

-   Sakit kepala yang hebat.

-   Wajah asimetris.

-   Tak sadar/ pingsan.

-   Bingung.

-   Lateralisasi/ hemiparese/ paraparese.

-   Gangguan bicara.

F.   Pemeriksaan diagnostik/ penunjang

1.    Angiografi serebral

Membantu menentukan penyebab dari stroke secara apesifik seperti perdarahan arteriovena atau adanya ruptur.

2.    CT Scan

Memperlihatkan secara spesifik letak oedema, posisi henatoma, adanya jaringan otak yang infark atau iskemia serta posisinya secara pasti.

3.    Pungsi lumbal.

Tekanan yang meningkat dan di sertai dengan bercak darah pada cairan lumbal menunjukkan adanya haemoragia pada sub arachnoid atau perdarahan pada intrakranial. Peningkatan jumlah protein menunjukan adanya proses inflamasi.

4.    MRI (magnetic Imaging Resonance)

Dengan menggunakan gelombang magnetic untuk menentukan posisi serta besar/ luas terjadinya perdarahan otak.

5.    USG Dopler.

Untuk mengidentifikasi adanya penyakit arteriovena (Masalah sistem karotis).

6.    EEG

Melihat masalah yang timbul dampak dari jaringan yang infark sehingga menurunnya impuls listrik dalam jaringan otak.

G.  Penatalaksanaan

1.    Terapi konsevatif

Memperbaiki keadaan umum, pemberian vasodilator, anti agregasi trombosit

2.    Terapi pembedahan

Endarterektomi à membentuk kembali pembuluh darah.

H.  Komplikasi

1.    Hidrosepalus.

2.    Disritmia.

3.    Afasia.

4.    Hemiparese/ paraparese.

I.  Pengkajian

1.    Riwayat kesehatan yang berhubungan dengan faktor pendukung terjadinya stroke,  serta bio- psiko- sosio- spiritual.

2.    Peredaradan darah

Pernah menderita penyakit jantung, denyut nadi yang tidak teratur, Polisitemia, atau riwayat tekanan darah tinggi.

3.    Eliminasi

Perubahan pola eliminasi (Anuria, inkontinensia uri), distensi abdomen, menghilangnya bising usus.

4.    Aktivitas/ istirahat

Terdapat penurunan aktivitas karena kelemahan tubuh, kehilangan sensasi atau parese/ plegia, mudah lelah, sulit dalam beristirahat karena kejang otot atau spasme dan nyeri. Menurunnya tingkat kesadaran, menurunya kekuatan otot, kelemahan tubuh secara umum.

5.    Nutrisi dn cairan

Adanya riwayat menderita Diabetes Melitus, anoreksia, mual muntah akibat peningkatan TIK (tekanan intra kranial), gangguan menelan, dan kehilangan sensasi pada lidah.

6.    Persarafan

Pusing/ syncope, nyeri kepala, menurunya luas lapang pandang/ pandangan kabur, menurunya sensasi raba terutama pada daerah muka dan ekstrimitas. Status mental koma, kelmahan pada ekstrimitas, paralise otot wajah, afasia, pupil dilatasi, penurunan pendengaran. 

7.    Kenyamanan

Ekspresi wajah yang tegang, nyeri kepala, gelisah.

8.    Pernafasan

Batuk, dyspnea, riwayat perokok.

9.    Keamanan

Memungkinkan terjadinya kecelakaan akibat dari pandangan yang kabur, penurunan sensasi rasa (panas dan dingin).

10.    Psikolgis

Tidak kooperatif, merasa tidak berdaya, tidak mempunyai harapan, perubahan pada konsep diri, dan kesukaran dalam mengekspresikan perasaannya.

11.    Interaksi sosial

Kesulitan dalam melakukan komunikasi karena afasia.

J.     Masalah  dan rencana tindakan keperawatan

1.    Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan neuromuskuler pada ekstrimitas.

Tujuan: Pasien menunjukan adanya peningkatan kemampuan dalam melakukan aktivitas fisik.

a.    Kaji kemampuan pasien dalam melakukan aktivitas.

b.    Ajarkan pada pasien tentang rentang gerak yang masih dapat di lakukan.

c.    Lakukan latihan secara aktif dan pasif pada akstrimitas untuk mencegah kekakuan otot dan atrofi.

d.   Anjurkan pasien untuk mengambil posisi yang lurus.

e.    Bantu pasien secara bertahap dalam melakukan ROM sesuai kemampuan.

f.     Kolaborasi dalam pemberian antispamodic atau relaxant jika di perlukan.

g.    Observasi kemampuan pasien dalam melakukan aktivitas 

2.    Penurunan perfusi jaringan otak berhubungan dengan edema cerebri, perdarahan pada otak.

Tujuan: Pasien menunjukan adanya peningkatan kesadaran, kognitif dan fungsi sensori.

a.    Kaji status  neurologis dan catat perubahannya.

b.    Berikan pasien posisi terlentang.

c.    Kolaborasi dalam pemberian O2.

d.   Observasi tingkat kesadaran, tanda vital.

3.    Resiko tinggi terhadap terjadinya cidera berhubungan dengan penurunan luas lapang pandang, penurunan sensasi rasa (panas, dingin)

Tujuan: Pasien menggunakan alat yang aman dalam melakukan aktivitas

a.    Lakukan tindakan untuk mengurangi resiko terjadinya cidera.

b.    Ajarkan pada pasien untuk menggunakan alat bantu secara benar dan aman.

c.    Ciptakan lingkungan yang aman.

d.   Sajikan makanandan minuman dalam keadaan hangat.

e.    Observasi kemampuan klien dalam melakukan aktivitas secara aman.

4.    Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan efek dari kerusakan pada area bicara pada himisfer otak.

Tujuan: Pasien mampu melakukan komunikasi untuk memenuhi kebutuhan dasarnya dan menunjukan peningkatan kemampuan dalam melakukan komunikasi.

a.    Lakukan komunkasi dengan pasien (sering tetapi pendek serta  mudah di pahami).

b.    Ciptakan suatu suasana penerimaan terhadap perubahan yang dialami pasien.

c.    Ajarkan pada pasien untuk memperbaiki  tehnik berkomunikasi.

d.   Pergunakan tehnik komunikasi non verbal.

e.    Kolaborasi dalam pelaksanaan terapi wicara.

f.     Observasi kemampuan pasien dalam melakukan komunikasi baik verbal maupun non verbal.

5.    Perubahan konsep diri berhubungan dengan perubahan persepsi.

Tujuan: Pasien menunjukan peningkatan kemampuan dalam menerima keadaan nya.

a.    Kaji pasien terhadap derajat perubahan konsep diri.

b.    Dampingi dan dengarkan keluhan pasien.

c.    Beri dukungan terhadap tindakan yang bersifat positif.

d.   Kaji kemampuan pasien dalam beristirahat (tidur).

e.    Observasi kemampuan pasien dalam menerima keadaanya.

6.    Resiko terjadinya ketidakpatuhan terhadap penatalaksanaan yang berhubungan dengan kurangnya informasi.

Tujuan: Pasien menunjukan kemauan untuk melakukan kegiatan penatalak- sanaan.

a.    Identifikasi faktor yang dapat menimbulkan ketidak patuhan terhadap penatalaksanaan.

b.    Diskusikan dengan pasien cara-cara untuk mengatasi faktor penghambat tersebut.

c.    Jelaskan pada pasien akibat dari ketidak patuhan terhadap penatalaksanaan.

d.   Libatkan keluarga dalam penyuluhan.

e.    Anjurkan pada pasien untuk melakukan kontrol secara teratur.



             DAFTAR PUSTAKA

Doengoes, Marylin E., 1989, Nursing Care Plans, USA Philadelphia: F.A Davis Company.

Junadi, Purnawan,  1982, Kapita Selekta Kedokteran, Jakarta: Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Price, Sylvia Anderson, 1985, Pathofisiologi Konsep klinik proses-proses penyakit, Jakarta: EGC.

5/7/2011 06:44:45 pm

mau tanya donk!!! bedannya cva bleeding ma cva infark toe apa sehhh

Reply
6/11/2016 12:10:30 am



Jerry Collins had a car accident in France he did not survive neither did his wife. But his baby is still alive in hospital.

Reply



Leave a Reply.

world health